18 Akibat Kelebihan Protein Terhadap Kesehatan Tubuh

Apa saja dampak buruk jika tubuh kelebihan protein? Bagaimana cara mengendalikan protein berlebih yang tersimpan di dalam tubuh? Kebutuhan protein bagi manusia normal setiap hari adalah 20 mg. Jumlah ini cukup untuk membangun sel dan membantu menghasilkan energi setiap hari.

Bagi mereka yang berprofesi sebagai olahragawan dan pekerja buruh kasar, kebutuhan tersebut menjadi berganda (double) sebanyak 50 mg per hari.

Tahukah Anda bahwa dalam satu gelas susu sapi terkandung sekitar 200 mg protein. Susu sapi yang diproduksi dalam waktu 1 bulan setelah melahirkan anak akan menghasilkan 2.000 mg protein per gelas yaitu 10 kali lebih banyak dari biasa. Saat itu biasanya para peternak tidak akan memerah indukan sapi yang baru melahirkan dalam waktu sebulan. Ini demi kesehatan anak sapi.

Bagi olahragawan terutama binaragawan, ada produk susu compounded atau yang telah diformulakan sehingga kandungan protein di dalamnya menjadi sekitar 20 mg hingga 100 mg protein per gelas. Rata-rata mereka nyaman mengkonsumsi 50 mg sehari.

Mitos Teori Penyerapan Makanan

Kebanyakan ahli nutrisi klasik mengklaim bahwa setiap kali kita menelan suatu makanan, hanya sekitar 1/7 atau 14% saja yang akan diserap oleh tubuh. Jadi, mereka menyarankan untuk mengkonsumsi makanan yang jumlahnya digandakan menjadi 7 kali. Jika kita memerlukan kebutuhan susu setiap hari sebanyak 20 mg, maka 14% dari segelas susu adalah 28 mg (Ingat, segelas susu mengandung 200 mg protein).

Kemudian mereka menyarankan agar susu yang dikonsumsi sebanyak dua kali lipat agar setara dengan jumlah yang diperlukan oleh olahragawan atau buruh kasar. Alasannya adalah agar supaya kita menjadi fit seperti olahraga dan buruh kasar. Akhirnya, para ahli nutrisi menyarankan untuk mengkonsumsi dua gelas susu sehari yang setara dengan 56 mg protein sehari. Nah, jumlah tersebut rupanya melebihi kebutuhan protein seorang olahragawan dan buruh kasar yang rata-rata sebanyak 50 gr per hari.

Dampak Buruk Kelebihan Protein di Dalam Tubuh

Protein yang cukup akan digunakan untuk membangun sel-sel tubuh. Tapi protein yang berlebihan akan diproses untuk diubah bentuk ikatannya dan dikirim ke tempat-tempat tertentu. Organ yang sehat akan dapat menyingkirkan protein dalam bentuk urin (air kencing) di dalam darah melalui ginjal. Kegagalan tubuh untuk memproses protein dengan baik akan menyebabkan protein mempengaruhi tubuh. Apa sajakah dampak buruk yang terjadi pada tubuh yang mengalami protein berlebih?

1. Sakit di Bawah Lengan

Protein yang kekurangan unsur hidrogen (dari sumber air) akan menjadi jenuh. Protein jenuh akan mudah membentuk lemak. Lemak dari protein akan disimpan di bawah kulit. Tapi ada juga lemak yang menumpuk di pembuluh darah. Bagian yang paling utama menerima darah adalah bahu dan lengan. Biasanya mereka yang mengambil protein berlebihan akan merasa sakit di bawah lengan terutama lengan sebelah kanan. Jika masalah protein berlebihan disertai dengan masalah kolesterol berlebihan, maka itu akan menyebabkan sakit di lengan sebelah kiri.

2. Penyebab Kutil, Ketuat dan Tahi Lalat

Ikatan protein yang membentuk lemak di dalam sistem limpatik dapat terjebak di bagian bawah kulit. Akibatnya terbentuklah tahi lalat. Penimbunan yang lebih besar akan membentuk kutil dan ketuat. Pembentukan ini biasanya sulit untuk surut kembali atau disebut pembentukan permanen. Sebaliknya, noda kulit atau tumor mini tersebut cenderung akan terus bertambah besar jika asupan protein berkelanjutan. Silakan baca: 15 Cara Hilangkan Kutil

3. Merangsang Jerawat

Pembentukan jerawat tidak sama seperti penyebab kutil dan tahi lalat. Jerawat terbentuk di dalam liang roma di bawah kulit. Kulit sebenarnya cukup kompeten mengontrol produksi kelembaban dan minyak. Empedu yang lemah akan menyebabkan kulit gagal mengontrol kelembaban dan produksi minyak.

Akibatnya ketika liang roma atau lobang pori-pori macet karena debu dan kotoran, maka reproduksi bakteri terjadi lebih banyak dan sistem limpa akan mengalirkan sejumlah protein untuk mengawalnya. Tetapi kandungan protein yang berlebihan akan membuat proses stabilisasi tidak terjadi dengan baik, malah bakteri akan terus bereproduksi hingga menyebabkan protein akan ditambahkan di bawah kulit. Akibatnya terbentuklah jerawat yang besar.

Ukuran dan jenis jerawat tergantung pada jumlah protein yang diproduksi. Seharusnya protein membantu bertindak sebagai antibiotik, tetapi sebaliknya justru bertindak sebagai bahan makanan untuk bakteri sehingga mengakibatkan jerawat terbentuk lebih besar.

4. Meningkatkan Efek Kulit Gelap karena Sengatan Cahaya Matahari

Protein yang berlebihan yang disimpan di bawah kulit dalam bentuk asam lemak adalah bahan yang mudah teroksidasi. Cahaya matahari bisa menyebabkan protein teroksidasi dengan mudah. Oksidasi protein akan memudahkan berubah warnanya yang gelap atau kehitaman. Mereka yang mengambil makanan tinggi protein akan mudah terpapar atau menjadi gelap saat terkena sinar matahari.

5. Meningkatkan Kadar Kolesterol

Protein yang diperoleh dari daging hewan juga dapat menjadi sumber makanan yang mengandung kolesterol bagi tubuh. Kolesterol dapat menyebabkan terjadinya pengerasan arteri sehingga meningkatkan resiko gangguan jantung. Karena itu bagi orang yang tengah melakukan diet dan khusus mengkonsumsi makanan dari sumber protein hewani juga harus waspada dengan beberapa resiko ini.

6. Obesitas dan Masalah Berat Badan

Lemak yang berlebihan menumpuk di bawah kulit lama-kelamaan akan turut tertimbun jauh dari kulit. Kegagalan organ hati untuk memproses kembali lemak yang terbentuk bisa menyebabkan berat badan bertambah dan menyebabkan masalah obesitas.

7. Gangguan Ginjal

Organ yang pertama akan memusnahkan protein adalah Ginjal. Kehadiran protein yang terlalu tinggi akan menyebabkan ginjal terbebani dan tidak efisien. Akibatnya akan terbentuk plug atau karang di bagian dalam ginjal. Selain ginjal, saluran uretra dan ureter serta kandung kemih dan prostat akan terganggu.

Beberapa gejala yang muncul akibat dari masalah ini adalah gangguan saat buang air kecil, misalnya sering kencing, tidak tahan untuk membuang air kecil dan mengompol. Jika masalah prostat terganggu disertai dengan kelemahan kelenjar adrenal, maka akan terjadi masalah kencing yang terlalu sering atau malah susah kencing.

Kekuatan kelenjar adrenal tergantung pada energi dari Ginjal. Kelenjar adrenal yang dipengaruhi oleh beban protein di dalam ginjal akan menyebabkan sinyal listrik (saraf) yang berfungsi menjaga darurat tidak dapat dikontrol oleh kelenjar adrenal. Masalah dari kelenjar adrenal akan menyebabkan symptom terkait dengan kecemasan dan masalah terkait seksual. Jika terjadi kebocoran sinyal listrik (saraf), maka seseorang akan mudah klimaks. Jika kehabisan sinyal listrik, seseorang tidak dapat klimaks atau lemas (lemah syahwat). Anda dapat menguji energi listrik di kelenjar adrenal dengan cara menyucuk pinggang seseorang. Jika dia mudah terkejut, ia menunjukkan energi listrik memadai. Jika tidak ada reaksi, ia menunjukkan kelenjar adrenalnya telah dipengaruhi protein yang berlebihan.

8. Menimbulkan Dehidrasi (Kekurangan Cairan)

Dehidrasi dapat menjadi salah satu gangguan kesehatan yang berat bagi orang-orang yang terlalu banyak mengkonsumsi protein. Bahaya kelebihan protein akan menyebabkan tubuh melakukan kerja yang lebih berat terutama untuk proses pembangunan jaringan tubuh. Hal inilah yang menjadikan konsumsi protein akan membuat tubuh membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Konsumsi protein tinggi tanpa disertai asupan jumlah air mineral yang seimbang akan menyebabkan tubuh dehidrasi.

9. Masalah IQ Tinggi

Organ hati adalah organ yang pertama memproses protein. Tapi apabila protein berlebihan, hati akan terbebani dan mengganggu pemikiran kreatif. Akibatnya tingkat IQ akan meningkat. Beberapa tanda atau gejala disebabkan oleh masalah ini adalah pemikiran menjadi buntu dan setiap yang dilakukan tidak mendatangkan hasil. Bila IQ (intelligent quotient) tinggi, maka akan terjadi masalah kekurangan EQ (emotional quotient). IQ adalah kemampuan mengingat dalam bentuk trauma. Ingatannya menjadi permanen dan tidak dapat diperbaharui. Jika kemampuan IQ digunakan untuk menghafal, hafalan tersebut kuat tetapi bersifat sementara.

Bagi siswa yang mengkonsumsi protein berlebihan, maka prestasinya tidak seimbang untuk semua mata pelajaran. Mata pelajaran yang terbaiknya tidak mencapai tingkat cemerlang dan sempurna. Meskipun mereka mendapatkan nilai tinggi dalam suatu mata pelajaran, tetapi mereka tidak memahami fakta sebenarnya tentang apa yang dipelajari dan ia tidak dapat mengaplikasikan dalam kehidupan nyata, karena hanya unggul dalam ingatan saja.

IQ yang tinggi akan menyebabkan seseorang kurang penghayatan dan menghargai orang lain. Pelajar yang tinggi IQ-nya akan mudah menjadi keras kepala dan susah penurut. Di dalam kelas mereka suka mencari kesalahan gurunya. Meskipun IQ membuat seseorang dapat mengingat melalui hafalan, tetapi hafalan tersebut adalah efek trauma akibat dari paksaan. Efek ini tidak dapat diperbaharui dan dapat menjadi ingatan jangka pendek, tetapi akan terimbas kembali dalam jangka panjang ketika terjadi rangsangan peristiwa.

10. Menjadi Pelupa

Kebanyakan sumber protein memiliki radioisotope 12 yaitu sifat logam berat yang mudah teroksidasi, penyebab kanker dan membebani kelenjar untuk menghasilkan hormon. Kelenjar membutuhkan mineral untuk membantu menghasilkan hormon. Tapi kehadiran logam berat akan mengganggu fungsi kelenjar. Kelanjar yang paling terpengaruh adalah kelanjar Pituitary.

Kelenjar ini berperan menjaga ingatan jangka panjang yang terbarukan. Konsumsi protein berlebihan akan menyebabkan peningkatan IQ tetapi fakta sebenarnya kurang daya ingatan segar atau memori mutlak yang terbarukan dan tunduk pada penghayatan dan rasa menghargai orang lain.

11. Mata Mudah Silau

Organ Hati mengontrol protein yang akan membantu otot terutama di bagian ligamen. Dalam struktur organ mata, iris adalah bagian yang paling terkena dampak dari konsumsi protein berlebihan. Akibatnya iris tidak dapat mengontrol pencahayaan yang masuk ke bagian mata. Jadi, mereka yang mengkonsumsi protein yang berlebihan akan mengalami masalah mata silau dengan cahaya atau ketika keluar dari rumah. Tandanya adalah akan terlihat seperti mata hendak terkedip-kedip atau hendak terpejam.

12. Mengurangi Ketosis

Banyak orang yang melakukan pola diet tertentu dengan mengurangi asupan karbohidrat dan lemak demi mengkonsumsi makanan tinggi protein. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus maka bisa mengurangi jumlah ketosis yang dihasilkan oleh tubuh. Kondisi tersebut bisa menyebabkan tubuh menjadi lebih lemah, otot berkembang tapi tidak berfungsi dengan baik dan berbagai masalah kekebalan tubuh lainnya.

Ketosis sendiri adalah kondisi liver manusia yang memproduksi keton untuk digunakan sebagai bahan bakar atau energi yang digunakan seluruh tubuh terutama otak. Ketosis terjadi ketika organ tubuh tidak mendapat suplai karbohidrat (glukosa) sebagai sumber makanan untuk diproses menjadi energi.

13. Asam Urat

Protein sifatnya adalah asam. Bila protein tersedia berlebihan di dalam darah, maka itu akan dikonversi menjadi asam lemak untuk disimpan. Tapi asam lemak berlebihan akan dikonversi menjadi uric acid (asam urat) dalam darah untuk disingkirkan oleh tubuh. Jika uric acid yang berlebihan tidak dapat disingkirkan, maka akan menumpuk di bagian kaki. Ketika tidur, uric acid (asam urat) akan terperangkap di bagian bawah kaki. Gejala seperti sakit di tumit ketika bangun dari tidur adalah tanda awal terjadinya asam urat (gout).

14. Jumlah Kalsium Rendah

Produksi asam akan menjadi lebih tinggi jika kadar protein terlalu tinggi di dalam tubuh yang dapat menyebabkan kemampuan tulang untuk menyerap kalsium menjadi menurun. Hal ini membuat tubuh berisiko mengalami bahaya kekurangan kalsium yang berpotensi terjadinya penyakit tulang dan berbagai masalah lain yang terkait dengan kebutuhan kalsium untuk tubuh. Tanda-tanda kekurangan kalsium karena konsumsi protein yang berlebihan adalah adanya rasa sakit pada pergelangan tangan.

15. Mudah Demam

Pankreas akan mengeluarkan glycogen untuk menetralisir asam urat yang berlebihan. Tapi jika kadar asam urat yang ada dalam jumlah banyak, maka organ pankreas akan terbebani sehingga membuatnya menjadi lemah. Pankreas dikontrol oleh bagian otak yang juga berfungsi sebagai pusat Kontrol Suhu. Kelemahan pada organ Pankreas juga akan menyebabkan pusat Kontrol Suhu menjadi lemah. Kekuatan pusat kontrol suhu akan memastikan tubuh mudah menyesuaikan perubahan suhu lingkungan.

Jika suhu tubuh tidak dapat dikendalikan akibat terkena hujan atau panas terik akan membuat tubuh tidak dapat mencegah infeksi bakteri penyebab flu dan demam. Mereka yang mengkonsumsi protein berlebihan akan sering mendapat demam jika terkena panas atau hujan. Jika kelemahan di bagian pusat Kontrol Suhu disertai dengan sistem darah yang lemah, maka seseorang mudah terkena infeksi demam dengue, demam malaria, demam urat dan sebagainya.

16. Bisa Merusak Organ Hati dan Otak

Protein berlebih yang tersimpan dalam tubuh dapat berisiko merusak organ otak dan hati serta sistem saraf. Hal semacam ini terjadi saat kita mengonsumsi protein dimana tubuh juga akan hasilkan racun yang juga akan diolah oleh hati. Namun bila mengkonsumsi terlalu berlebih akan dapat mengakibatkan penimbunan toksin dalam hati. Bahkan juga toksin yang sangat banyak akan mengakibatkan kerusakan aliran darah pada badan. Bila rusaknya berlangsung dengan terus-terusan maka fungsi hati serta otak jadi tidak seimbang.

17. Masalah Keseimbangan Makronutrien untuk Tubuh

Berbagai jenis makanan yang mengandung protein tinggi dapat membuat tubuh menjadi lebih kuat. Namun jika kebiasaan ini dilakukan secara terus menerus maka keseimbangan nutrisi mikro dan makro akan menjadi tidak sesuai. Keseimbangan zat makro dan mikro untuk tubuh memang sangat penting untuk mengontrol sistem dalam tubuh termasuk untuk fungsi organ, otot dan jaringan tubuh.

18. Resiko Kanker

Hal lain yang menjadi potensi efek protein berlebih adalah kanker. Konsumsi berbagai jenis sumber protein dari hewan dapat meningkatkan resiko penyakit kanker yang lebih tinggi. Timbunan lemak yang berasal dari sumber protein memicu munculnya radikal bebas yang menyebabkan pertumbuhan sel normal menjadi kanker.

Mitos Kebutuhan Protein

Protein yang berlebihan dalam tubuh sebenarnya dapat meresap terus di dalam tubuh tetapi tidak akan bersenyawa dengan kromosom pada DNA dan RNA sel. Resapan protein ini akan menyebabkan sel akan terlihat gemuk dan segar, tetapi tidak menambah energi sel. Suatu organ yang menerima protein yang banyak masih mampu mengeluarkan suatu enzim, misalnya sekresi insulin dari pankreas.

Inilah sebabnya beberapa orang mengklaim susu awal sapi atau susu yang mengandung lebih IGG ini membantu mencegah masalah diabetes atau kencing manis. Insulin harus disekresikan mengukut sinyal sekresi yang dikirim oleh otak sehingga gula dapat dicerna dengan sempurna dan insulin dapat disekresikan pada kadar yang tepat.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa insulin tersedia meningkat setelah konsumsi susu tinggi protein, tetapi insulin ini tidak dapat mencerna keseluruhan gula yang ada dalam tubuh secara alami disebabkan rembesannya tidak secara alami. Insulin yang dihasilkan terlalu banyak dalam tubuh akibat dari masalah ini bukan saja tidak dapat mencerna gula dengan efisien, bahkan lebihannya akan menjadi penyebab gastric karena bersifat korosif dinding-dinding perut.

Selain pancreas, organ-organ lain seperti perut, hati dan limpa, ginjal, empedu juga akan menjadi gemuk. Tapi tidak bertenaga malah menjadi lemah. “Kegemukan” organ-organ ini hanya akan membuat rasa sakit di bagian tersebut menjadi terhalang. Hubungan organ ini dengan tulang belakang akan membuat rasa sakit belakang hilang untuk sementara waktu. Janganlah jadikan kedua dua alasan ini (mengobati diabetes dan sakit belakang) sebagai alasan untuk seseorang mengambil susu tinggi protein. Kemudaratannya lebih buruk dari manfaat yang ada.

Tips Kendalikan Konsumsi Protein

Protein yang dibutuhkan oleh tubuh adalah protein radioisotope 14. Sumber protein 14 ialah ikan, susu kambing dan susu unta. Kandungan protein dalam sumber ini adalah ideal yaitu kurang dari 50mg per porsi yaitu seekor ikan dan segelas susu kambing atau unta. Untuk mengatur pola konsumsi protein yang tepat, anda bisa menerapkan tips-tips berikut ini:

  • Konsumsi berbagai jenis sumber protein dari sayuran seperti kecambah, biji-bijian dan madu.
  • Memperoleh asupan protein dari bubuk protein khusus juga dapat anda terapkan. Namun konsumsi bubuk protein hendaknya juga diaplikasikan sesuai dengan kadar yang dibutuhkan oleh tubuh.
  • Pilihlah jenis daging yang tidak banyak mengandung lemak. Upayakan mengkonsumsi jenis daging organik yang tidak mengandung protein buatan untuk ternak.

Demikianlah deskripsi mengenai akibat buruk yang ditimbulkan karena kadar protein yang terlalu melebihi batas dalam tubuh. Seseorang harus melakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui apakah tubuh mengalami kelebihan protein atau tidak. Indikasi kelebihan protein bisa dilihat dari pemeriksaan laboratorium antara lain melalui ureum dalam darah.

Tinggalkan komentar