Apa saja jenis-jenis tari dalam kebudayaan masyarakat pulau Bali? Bagaimana sejarah penciptaan dan fungsi seni tari tersebut? Salah satu yang menjadi andalan pariwisata pulau Bali adalah ragam kebudayaannya yang unik. Berbagai seni tradisi dapat anda jumpai ketika berlibur di pulau kecil ini, salah satunya adalah pementasan berbagai jenis tari tradisional, baik itu di panggung hiburan, taman budaya, hingga juga di area pura.
Bali memiliki puluhan nama tarian, seperti tari cendrawasih, tari belibis, tari margapati, tari topeng, tari pendet, joged, dan sebagainya. Namun, dari sekian banyak tarian tradisional Bali tersebut, secara garis besar dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu: Tari Wali (Sakral), Tari Bebabi (Semi Sakral), dan Tari Balihan (hiburan).
Tari Bali / Wali
Tari Sakral Bali ini juga dikenal dengan nama tari wali atau tari sanghyang. Tarian ini hanya boleh dipentaskan tatkala ada sebuah upacara yadnya (ritual keagamaan) yang sedang berlangsung. Jenis tarian ini ditujukan untuk melengkapi rangkaian suatu upacara keagamaan.
Ada juga yang menganggap bahwa tarian ini dipentaskan untuk menghibur para leluhur atau para dewa-dewi kahyangan yang sedang turun ke bumi (mercapada). Tarian sakral biasanya dipentaskan di dalam area pura (jeroan) dengan menggunakan berbagai perlengkapan dan pakaian tertentu.
Ada juga tarian yang hanya boleh dipentaskan oleh gadis-gadis yang masih suci. Beberapa jenis tarian tradisional Bali yang tergolong tari sakral diantaranya:
- Sang Hyang Dedari adalah tari yang memasukkan unsur-unsur kerasukan guna menghibur dewa-dewi, meminta berkat dan menolak bala.
- Sang Hyang Jaran yaitu tarian yang dimainkan oleh dua orang laki-laki sambil menunggang kuda-kudaan yang terbuat dari rotan dan atau kayu dengan ekor yang terbuat dari pucuk daun kelapa.
- Tari Rejang adalah tarian yang ditampilkan oleh wanita secara berkelompok di halaman pura pada saat berlangsungnya upacara. Tari rejang memiliki gerakan yang sederhana dan lemah gemulai.
- Tari Baris merupakan jenis tarian pria, ditarikan dengan gerakan yang maskulin. Berasal dari kata bebaris yang bermakna prajurit, tarian ini dibawakan secara berkelompok, berisi 8 sampai 40 penari.
- Tari Pendet merupakan tari penyambutan turunnya dewa-dewi dalam suatu upacara keagamaan yang dilaksanakan oleh warga Bali.
Tarian Bebali
Tari ini merupakan jenis tarian semi sakral, dapat berfungsi sebagai tari sakral dalam upacara tertentu dan sekaligus bisa sebagai tari hiburan. Di areal pura, tari ini biasanya dipentaskan pada halaman tengah (madya mandala). Tarian ini biasanya mengisahkan suatu lakon kisah yang terkait dengan upacara yadnya tersebut. Yang termasuk tarian bebali adalah:
- Tari Topeng adalah tari yang menggunakan topeng sebagai penggambaran dari sebuah karakter/tokoh. Tari topeng Bali beraneka ragam, masing – masing daerah mempunyai nama dan keunikannya tersendiri. Ada tari topeng Sanghyang, topeng Sidakarya, Topeng Panca, Tari Topeng Pajegan, dan lainnya.
- Gambuh adalah seni dramatari tertua Bali yang dianggap paling tinggi mutunya. Tari Gambuh merupakan Drama tari Klasik Bali yang paling kaya dengan gerakan tari dan dianggap sebagai sumber segala jenis tari klasik Bali, Gambuh berbentuk total theater dimana didalamnya terdapat unsur seni tari (yang paling dominant ), seni suara, seni sastra, seni drama dan unsur lainnya . Di Bali, Gambuh diduga timbul sekitar abad ke 15 yang lakonnya bersumber pada ceritra Panji.
Tarian Balih-balihan
Tari ini merupakan jenis tarian hiburan, berfungsi sebagai hiburan masyarakat. Tarian ini umumnya dipentaskan di panggung atau gedung (wantilan) atau di area terluar pura (jaba). Tarian balih-balihan terus mengalami dinamika seiring kreatifitas seniman – seniman tari (pragina) pulau Bali. Beberapa jenis tari hiburan ini antara lain: arja, joged, drama gong, tari kecak, janger, calon arang, tari cendrawasih, tari puspa anjali, tari manuk rawa, sendratari, seni tradisional modern dan sebagainya.
Nah, ketika anda berwisata ke pulau Bali, anda bisa menyaksikan beragam pementasan tari hiburan yang biasanya diadakan di panggung pementasan, di beberapa hotel, atau di area Pura yang sedang berlangsung upacara keagamaan, atau di rumah warga yang tengah melangsungkan upacara riutal tertentu. Dari berbagai jenis tari tradisional yang eksist di Bali, ada sejumlah tari tradisional – modern yang paling populer dan sering dipertunjukkan, yakni:
1. Tari Janger

Tari Janger ditarikan oleh 10 hingga 16 orang penari secara berpasangan, yaitu kelompok putri yang dinamakan janger dan kelompok putra yang dinamakan kecak. Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan. Lirik lagu Janger diadopsi dari nyanyian Sanghyang, sebuah tarian ritual kuno. Jika dikategorikan dalam Tari Bali, Janger termasuk Tari Balih-balihan, yakni tarian yang memeriahkan upacara maupun untuk hiburan.
2. Tari Topeng

Mengadaptasi kehidupan nyata, Tair topeng yang digunakan bisa menggambarkan banyak karakter, baik karakter orang pada masa kini maupun tokoh – tokoh fiktif atau orang zaman dahulu dengan berbagai sifat dan karakternya. Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat.
Tari Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.
3. Tari Wirayudha

Tari Wirayudha diciptakan untuk menggambarkan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan perang. Dalam pementasannya, para penari mengenakan hiasan ikat kepala berbentuk udeng-udengan. Tarian ini merupakan seni kreasi tari tradisional modern yang diciptakan oleh I Wayan Dibia pada tahun 1979 melalui Sanggar Tari Bali Waturenggong.
4. Tari Puspanjali

Tarian ini banyak mengambil inspirasi dari gerakan tarian Rejang, dan menggambarkan sejumlah gadis yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989. Dalam acara-acara besar tertentu, misalnya pertemuan sejumlah duta besar atau konferensi tinggi di Bali, tari Puspanjali dijadikan sebagai tari pembuka acara.
5. Tari Baris

Dalam peragaan tarinya, tari Baris diawali oleh gerakan yang hati-hati layaknya seorang prajurit yang sedang mencari musuhnya di daerah yang belum dikenal. Ketika sampai di tengah panggung, para penari mulai berjinjit, bergerak lebih cepat dan dengan gesit berputar di atas satu kaki. Ekspresi wajahnya menunjukkan raut muka seorang pejuang yang tengah berada di medan perang. Tari baris diperkirakan diciptakan pada abad ke-16 yang merupakan tarian keramat (sakral) yang dipertunjukan pada acara tertentu, misalnya upacara penutup kremasi atau upacara peringatan Pura dan upacara suci lainnya.
Masyarakat setempat percaya bahwa pementasan tari Baris di perayaan tertentu memiliki kekuatan magis para dewa dewi dan leluhur turun ke dunia untuk memberi berkat. Jadi tarian ini dipersembahkan untuk mereka sebagai pertunjukan dan juga rasa syukur.
6. Tari Kecak

Dalam pertunjukan tarian ini menggunakan banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan kata “cak” dan mengangkat kedua lengan. Penggalan epos yang dilakonkan dalam tari kecak adalah kisah Ramayana saat barisan kera dan Anoman membantu Rama melawan Rahwana.
Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain poleng (motih kotak-kotak putih hitam seperti papan catur) melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari utama yang menjadi lakon yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.
7. Tari Barong

Ada beragam tari barong dengan fungsi dan tradisi yang berbeda, diantaranya tari barong macan, barong bangkal, barong gajah, barong asu, barong landung, barong blasblasan, barong ket (keket). Tari Barong yang sering ditampilkan pada saat ini adalah tari barong ket. jenis tari barong ini memiliki kostum dan gerak tari yang lengkap, bentuknya merupakan perpaduan antara binatang singa, macan, sapi atau boma.
Badan Barong dihiasi dengan berbagai ukiran yang dibuat dari kulit, dengan potongan kaca cermin yang berkilauan dan bulunya dibuat dari serat daun perasok, ijuk atau ada pula dari bulu burung gagak, topeng muka barong dibuat dari kayu dengan sumber tempat yang angker dan keramat. Sering kali tari Barong ini dipentaskan dalam lakon drama yang mengisahkan peperangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan) Tarian ini diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, gamelan Batel dan gamelan Babarongan dan kerap ditambahkan dengan aksi tari keris keraksukan.
8. Tari Cendrawasih

Burung yang merupakan ikon tanah Papua tersebut dalam masyarakat Bali dikenal sebagai Manuk Dewata. Tari Cendrawasih pentaskan oleh 2 orang wanita yang berperan sebagai burung cendrawasih jantan dan cendrawasih betina. Gerak kedua burung ini ibarat sepasang burung yang memadu kasih. Mereka meliuk-liuk seperti sedang menari dan juga menyanyi ketika menjelang perkawinan.
9. Tari Trunajaya

Tari Trunajaya diciptakan pada tahun 1915 oleh Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan oleh I Gede Manik. Kreasi tarian yang berasal dari Bali Utara ini diciptakan untuk sebuah tari hiburan yang bisa dinikmati saat-saat perayaan tertentu. Tari Trunajaya termasuk dalam kategori tari Balih-balihan atau sebagai tari hiburan. Sebagai tari hiburan tarian ini dapat dipentaskan dimana saja. Misalnya di halaman pura, di lapangan atau panggung tertutup/terbuka, dan di tempat- tempat lainnya.
10. Tari Legong

Tari Legong ditarikan oleh 2-3 orang penari yang menghadirkan tokoh “Condong”, sebagai pembuka tarian ini, namun ada kalanya tari legong ini tidak menghadirkan tokoh tersebut, tergantung jumlah penarinya. Gamelan yang mengiringinya di kenal dengan nama Semar Pegulingan. Ciri khas lain dari Tari Legong adalah penarinya memakai kipas, kecuali penari dengan tokoh Condong.
11. Tari Pendet

I Wayan Rindi adalah seorang seniman yang seumur hidupnya mengamati seluruh tarian Bali, Tari ini diajarkan paling pertama kali jika kita ingin belajar tari Bali, karena tari Pendet ini semacam basic untuk bisa menari tarian yang lainnya. Di tarian ini, kita akan mempelajari gerakan-gerakan dasar tari Bali. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, namun kebanyakan wanita, dewasa maupun gadis dengan menari sambil membawa perlengkapan sesajen (hiasan bunga).
12. Tari Panji Semirang

Hal ini agak sedikit berbeda dalam Babad Bali, dimana tarian ini menggambarkan putri bernama Galuh Candrakirana yang melakukan perjalanan dan pengembaraan untuk mencari kekasihnya yang hilang bernama Raden Panji Inu Kertapati. Sang Putri pergi dengan menyamar sebagai laki-laki. Tarian ini ditarikan oleh perempuan dengan penampilan seperti laki-laki, dan tentu saja gerakan yang diekspresikan bukan gerak gemulai perempuan, tetapi berkarakter laki-lakki.
13. Tari Margapati

Namun dalam hal ini Tari Margapati bisa di bawakan oleh perempuan dengan ekspresi mimik yang gagah. Tari Margapati dalam tari profan memiliki fungsi sebagai hiburan di masyarakat dan biasa dipentaskan dalam mengisi acara dalam upacara agama atau acara resmi lainnya.
14. Tari Gopala

Tari ini diciptakan pada tahun 1983 yang diambil dari cerita pragmentari “Stri Asadhu” karya Ibu Ketut Arini, S.St. Tari Gopala dianggap sebagai tarian yang bertemakan kerakyatan. Gerak tariannya mencakup aktivitas gerakan binatang sapi, memotong rumput, menghalau burung, membajak sawah, menuai padi, dan lainnya.
15. Tari Condong

Kemudian ia mendapat penglihatan gaib dua gadis cantik menari dengan anggun ditemani musik gamelan. Setelah pangeran tersebut sehat kembali, pangeran ini mereka ulang tarian yang pernah dilihatnya. Tarian ini awalnya menceritakan kisah dua bidadari bernama Supraba dan Wilotama. Kemudian, sejak periode 1930-an, cerita diubah menjadi seorang raja atau ratu. Menurut pengakuan beberapa seniman tari, Tari Condong memiliki gerakan yang cukup sulit dan durasinya juga cukup lama, sekitar 12 menit. Tarian ini adalah tarian klasik Bali yang memiliki perbendaharaan gerak yang sangat kompleks yang menggambarkan seorang abdi Raja.
16. Tari Ciwa Nataraja

Nataraja, Raja Tari, mempunyai empat tangan. Tangan kanan atas memegang drum/genderang dari mana hasil-hasil ciptaan terus keluar tiada hentinya (Tuhan adalah sumber dari segala ciptaan). Tari Siwa Nataraja yang telah dijadikan tari kebesaran STSI Denpasar ini ditarikan oleh sembilan orang penari putri: satu orang berperan sebagai Siwa, sedangkan delapan orang lainnya menggambarkan pancaran tenaga-tenaga prima dari Siwa.
Tarian ini merupakan perpaduan antara tari Bali dengan beberapa elemen tari Bharata Natyam (India) yang telah dimodifikasi sehingga terwujudlah suatu bentuk tari yang utuh. Tarian ini diciptakan pada tahun 1990 oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem yang juga sebagai penata kostumnya dengan penata iringan adalah I Nyoman Widha.
17. Tari Belibis

Gerakan tari burung Blibis tidak hanya berkaitan dengan kelenturan tubuh, tetapi juga berhubungan dengan tenaga yang digunakan. Seperti layaknya seekor burung, tari Blibis mengedapankan gerakan kepala dan leher, pandangan mata, serta gerak tangan dan kaki. Musik dan gamelan yang mengiringi tari ini berkesan lincan dan agresif. Beberapa alat musik yang digunakan antara lain: gangsa, cengceng, reong, kempul, penyahcah, suling, kendang, gong, jegogan, dan kajar.
18. Tari Manukrawa

Tarian ini umumnya dipentaskan oleh 5 sampai 7 orang penari wanita. Tari Manukrawa merupakan tarian kreasi baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata. Gerakannya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan. Tari Manukrawa sering dipentaskan oleh anak-anak dengan gerakan yang ekspresif, yakni termasuk gerakan loncat dan jongkok yang menggambarkan kelincahan burung rawa.
19. Tari Rejang

Tari Rejang ada beragam jenisnya sesuai dengan fungsi tertentu, diantaranya adalah: Rejang Renteng, Rejang Bengkel, Rejang Ayodpadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa, Rejang Palak, Rejang Membingin, Rejang Makitut, Rejang Haja, dan juga Rejang Negara. Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, Tari Rejang diperkirakan sudah ada sejak jaman pra-Hindu. Tarian ini dilakukan sebagai persembahan suci untuk menyambut kedatangan para dewa yang turun ke Bumi.
Tari Rejang ini merupakan tarian persembahan suci dalam menyambut kedatangan para dewa yang datang dari kahyangan dan turun ke Bumi. Tarian ini berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan mereka kepada dewa atas berkenannya turun ke Bumi.
20. Tari Tenun

Tari tenun diciptakan oleh I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes pada tahun 1962. Selain untuk keindahan gerak, tari tenun juga berfungsi untuk melestarikan kebudayaan tenun-menenun yang ada di Bali dan juga melestarikan alat-alat tradisional yang dipergunakan dalam menenun. Busana Tari Tenun terdiri dari: kepala memakai lelunakan; pakaiannya terdiri dari tapih, kamen, dan selendang yang dililitkan di dada serta sabuk prada; tata rias hampir sama dengan tarian lain; bunga sandat 3buah di kenakan di kepala; bunga yang berwarna merah, juga di kenakan di kepala; dan bunga semanggi di kenakan di kepala.
21. Tari Joged

Tarian ini dinamakan Joged Bumbung karena mempunyai gerakan tari yang aksentuasinya diikat oleh aksentuasi gambelan tingklik bumbung yang belaraskan selendro. Tari Joged Bumbung merupakan tarian yang tidak berlakon khusus. Seorang penari Joged biasanya pentas hanya 30 menit, kemudian diganti oleh penari lainnya. Yang menjadi jawat atau pengibingnya adalah para penonton laki-laki secara bergiliran. Dalam perkembangan kepariwisataan seperti sekarang ini fungsi joged bumbung selain sebagai hiburan rakyat ternyata Joged Bumbung kini sudah bias dipergunakan untuk menghibur para wisatawan yang berkunjung ke Bali.
22. Tari Gambuh

Rakêt Lalaokaran yang juga disebut Gambuh Ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan antara Rakêt dengan Gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang merupakan kelanjutan dan Bhata Mapdtra Yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur rakyat Majapahit yang melaksanakan upacara Shreiddha. Kemudian tari ini berkembang dan lestari di Bali serta memberi pengaruh kesenian masyarakat Bali. Salah satu drama tari yang mendapat pengaruh dari Gambuh adalah drama tari opera arja. Arja adalah drama tari opera yang menggunakan tembang dan dialog sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan.
23. Tari Panyembrama

Gamelan yang digunakan dalam tarian ini adalah gong kebyar dan dalam pentas menggunakan pakaian adat Bali. Tari Panyembrama dipentaskan oleh sejumlah penari perempuan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga lirik mata, senyum, dan gerak gemulai tubuhnya terlihat anggun mempesona.
24. Tari Sanghyang

Sebelum dapat menarikan sanghyang calon penarinya harus menjalankan beberapa pantangan, seperti: tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mencuri. Tari Sanghyang ada beberapa jenis, diantaranya Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng, Sanghyang Memedi, Sanghyang Bungbung, Sanghyang Janger, Sanghyang Jaran, Sanghyang Kidang, dan Sanghyang Sengkrong.
25. Tari Kebyar Duduk

Bagian dari gerak tari yang dilakukan dengan posisi sulit, yaitu setengah jongkok, dan terlihat unik ketika penari dapat bergerak melangkah atau berpindah tempat dengan cepat. Sama seperti tarian Baris, tari Kebyar Duduk merupakan tarian tunggal. Jika tari Baris mengilustrasikan gerakan-gerakan ksatria (prajurit) Bali pada umumnya. Dalam tarian Kebyar penekannya adalah pada penari itu sendiri yang menginsterpretasikan nuansa musik dengan ekspresi wajah dan gerakan.
Penciptaan tarian ini terdiri atas empat bagian, yaitu papeson, kebyar, pangandeng, dan pangecet. Tari Kebyar Duduk menggambarkan seorang pemuda yang menari dengan lincah mengikuti irama gamelan.
Demikianlah sederet aneka seni tari yang berkembang dan populer di Pulau Bali. Selain tari-tarian tersebut, ada pula beberapa seni tari tradisional kreasi lama dan baru, antara lain: tari Wiranata, tari Oleg Tamulilingan, tari Nelayan, dan berbagai jenis tari kreasi baru lainnya. * Terima kasih telah membaca artikel ini. Jika bermanfaat, jangan lupa share di media sosial, seperti Facebook dan Twitter.
